Aku Orang Yang
“Termarjinalkan”
“Engkau Lelaki Kelak
Sendiri” (Iwan Fals)
Sedikit tergelak, aku mengakui kini kebenaran kata legenda
itu. Aku penggemarnya sejak dulu. Sejak masih SD dulu. Aku tak tahu apapun yang
dia katakan waktu itu. Lingkunganku menyukainya: kakakku, temanku, semua
menyanyikan lagunya. Dan kini memang, aku merasakan kesendirian. Dan aku
menemukan kehidupan dalam kesendirianku.
Tersenyum lagi, mengingat kejadian dulu di masa kecil. Yah..
aku yang tidak dimanja tapi selalu manja. Aku yang ingin diakui di keluarga,
dengan kemanjaan mencari perhatian – cemburu pada adik dan kakakku. Kini aku
sendiri, mencoba mencari makna kata –sendiri-.
Aku orang yang termarjinalkan, memang! Benar sekali. Dan aku
menemukan seseorang yang bernama “kesendirian” disitu. Dan mengajarkanku
banyak. Tentangnya. Tentang menjadi lelaki. Memberitahuku bahwa ini memang
siklus lelaki. Tidak hanya perempuan yang mempunyainya. Siklus lelaki.
Apa yang kutemukan? Aku menemukan banyak sekali. Yang
memenuhi otak dan menghentak pendirianku. Apakah ini kehidupan sebenarnya?
Akupun tidak tahu. Mungkin iya, mungkin tidak. Inikah gerbang kedewasaan itu?
Kalau begitu menjadi dewasa itu sulit? Umurku 21 tahun, tidak cukup dewasakah
itu? Mungkin iya, mungkin tidak. Orang seumurku sudah bisa punya anak. Kalau
kata temanku “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”. Jadi, apakah
aku? Dewasa atau Tua-kah?
Kesendirian yang
kutemukan itu menuntut banyak. Ia menuntut janjiku, komitmen dan pendirian,
tanggung jawab, disiplin, serta
sugestiku. Banyak sekali. Sebagian diantaranya tidak kupunya. Bingung! Disisi
lain aku memang harus sendiri, mungkin
berdua dengannya – si Kesendirian itu-. Ia tidak bisa kutolak. Aku malah yang
mencarinya. Aku termarginalkan, dan kutuai juga marginalisasi itu, untuk
kemudian menjadi lelaki.
Belajar menjadi lelaki, dan baru kumulai!!!