Self Conversation
“Dari mana saja ? Udah lama nih kita gak ngobrol, kayaknya udah panjang banget jalan yang udah kau tempuh, udah banyak waktu yang kau habiskan. Apakah kau masih sama seperti yang dulu? Engkau yang kukenal dulukah yang bicara denganku sekarang? Atau engkau baru? Sudah lama tak bertemu. Mungkin begitu banyak pertanyaan yang mungkin kan kkutanyakan kepadamu. Tapi biar enak, kita santai-santai aja kali ya?”
“Masih merokok kan? Nih ada rokok, mungkin ini tak bisa menyelesaikan masalahmu. Atau mengurangi satu saja kerut di keningmu. Tapi kutahu barang ini amat kau butuhkan. Tak bodoh memang untuk merokok, tapi rasanya ini gak terlalu baik buatmu. Baru saja kubelikan sebungkus untukmu. Yah, aku untukmu”.
‘Ayolah, katakan satu atau dua patah kata saja, ingin kudengar lidah itu berujar. Bagaimana kau berucap? Masih seperti dulukah? Hingga aku bisa menghitung kata-kata yang tercap dari mulutmu itu. Berapa yang bermanfaat dan berapa yang sampah?”
“Marahkah kau padaku? Yah, walau kutahu kau diam, kutahu kau memerahkan mukamu kepadaku. Malu tuk mengakui, atau mau berkata itu masa lalu buatmu? Ayolah... kalau kau masih saja diam, tentu takkan bisa ku berujar banyak padamu. Kau takkan tahu apa-apa selama kau tak mau tahu kawan.” Ayolah”..
“Bagaimana kabarnya cinta? Apa benar kabar yang kudengar bahwa kau tlah meneguhkan hati? Sejauh mana kau tlah melangkahkan hati? Aku lihat dulunya, yah, aku telah cukup melihat dirimu jatuh bangun, menangis dan tertawa, marah dan kecewa untuk cinta yang kau kejar itu. Aku sudah cukup melihat pengorbanan dirimu agar tak melukai orang lain, tapi apakah kau sudah meneguhkan hati? Kawan, cinta itu masalah hati, berulang kali kulihat kau mencoba melogikan perasaanmu. Kemudian kau terhimpit diantara penyesalan yang berakhir di kebuntuan akal. Kemudian orang-orang di sekelilingmu terkena getahnya. Sudah cukup kau menyusahkan dirimu. Apalagi orang disekitarmu. Tak kutahu apa engkau masih seperti itu....”
“Tentunya kau sudah bertemu banyak orang bukan? Kutahu cukup mudah bagimu tuk bergaul, tapi satu yang mungkin masih terbekas di hatimu. Kesusahan yang kau simpan, kegelisahan yang tertekan, yang kau tak mau bagi bersama. Keegoisan yang tak hilang juga kau tunjukkan. Setelah itu berbagi penderitaan, cukup tegakah kau melukai mereka? Teman-temanmu itu?”
“Hei, sekarang mengapa kau menunduk? Lihatlah kesini, biar kulihat matamu itu, masihkah meratap merah? Dari matamu kan kulihat dendammu. Kugadaikan keberpihakanku. Kau malu bukan? Atau malah mau bangun tuk memukulku? Itu tiada guna Kawan. Kau mungkin akan menghancurkan segala usahamu.”
“Ayo, tengok sini barang sebentar. Biar kulihat raut mukamu itu. Apakah yang kan kulihat? Senyum lebar yang kan menghilangkan mata, atau tatapan sinis bersama sunggingan senyum yang dipaksakan, atau malah mata merah berapi yang kan meledakkan otakmu? Biar kulihat juga sejauh mana dirimu tertempa oleh dunia.”