seorang anak berjalan sendiri dengan menjinjing sebuah kantong plastik berwarna merah, berpakaian merah putih dan berjalan dengan tertatih-tatih menahan beban dari plastik itu. terlihat begitu kepayahan untuk plastik besar itu. tapi anak itu berjalan terus.. terus.. dan terus... dengan tetap membawa plastik merah yang berisi makanan kecil yang nantinya akan dititipkan di kantin sekolah.
dia terus berjalan. bukan anak-anak lagi. sekarang ia lebih besar, meskipun perawakannya lebih kecil dari teman seusianya? masih membawa kantongkah dia? tidak, dia tidak membawa kantong. hanya membawa tas yang disandangkan ke samping. lihatlah sepatunya yang dekil. bukan tak mampu beli sepatu. hanya sepatu anak ini tidak ada yang tahan lama. bajunya keluar... sepertinya dia benar-benar tidak peduli dengan penampilannya. dan dia belum mengenal wanita. nakalkah dia? yah.. dia nakal.. kadang merokok bersama temannya, hampir tiap hari bermain ding-dong, mulai meninggalkan shalatnya. tapi dia suka membaca, yah.. tempat sewa komik adalah tempat bermainnya. jajannya dikembalikan ke ayahnya untuk dibelikan majalah. yah.. walau pun ternyata ayahnya sudah tau akan dikembalikan... anak yang aneh...
dia makin besar... abu-abu sudah celananya. panjang. masih berjalan dan berjalan... sibuk dengan dirinya. sudah mulai mengenal wanita.. dan waktu berjalan.
dan dia sekarang sedang di depan komputer. mengetik dengan lincah tentang hidupnya yang lalu. dan sepertinya dia menikmati itu.